Cari Blog Ini

Kamis, 23 September 2010

KETIKA PENYAIR KONDANG TAK LAGI NENDANG, : Kritik Puisi di Musim Hujan, Oleh: M. Rain)

(Pertama kali disebarkan pada 16 September 2010 jam 9:34 via note fb Muhrain tanpa taq.)



Apa kabar SASTRA INDONESIA?

"tetep asyiiiik!!" Begitulah ingat bersama kita tentunya, kepada seorang Rina Gunawan yang pernah begitu akrap dalam tontonan tv tempo dulu. Bagaimanakah rupanya kabar karya-karya puisi juga cerpen (waduh.. kalau bicara cerpen, rasanya rada tipis kemunculannya) yang makin tumbuh menjamur seliwer berseliweran dalam facebook.

Ketika dunia mayamembuka tabung serupa corong yang maha luas, sastra dan penciptaannya di media cyber semakin tumbuh pula bak jamur apalagi memang lagi musim hujan, di bulan September 2010 ini. Seandainya masih ada pihak yang (kecele) merasa ribet dalam memahami Sastra Cyber, Sastra Maya dan entah istilah apa lagi yang seolah hendak memasung para pekarya kesusastraan di media internet. Padahal banyak kekakuan kita dalam menafsirkan suatu karya tak boleh dibatasi media.

Menyangkut tentang penyair kondang yang tak begitu nendang lagi, ada baiknya yang merasa penyair muda lepas tangan saja, sebab kritik ini tak ditujukan pada kalian sama sekali. Sebagai alergi. Alergi dalam artian masih ketar-ketir bagi pelaku muda kesusastraan Indonesia. Barisan nama-nama semakin padat, bahkan bisa dikatakan sastra yang ditulis diruang maya seolah semakin mengalami obesitas, kegemukan, sarat pelaku namun masih disayangkan belum diimbangi dengan munculnya karya-karya baru yang lebih gress, lebih nendang, orisinildan membuat mata baca seorang pembaca bayak puisi-puisi sastra kita belum menyolok lekat matanya pada salah satu dua nama.

Lalu apakah kemajuan sastra yang teruploud di kertas digital ini masih menunjukkan keadaan tertentu, berani mengemplang banyak tulisan basi atau bisa disebut pula plagiat manis? Kompetensi bersastra di ruang ini masihlah teramat nyeleneh, sekadar takut ketinggalan, penyair kawakan pun mulai gerah, sibuk dan ngelmu sendiri tentang bagaimana dapat seturut hadir, dapat ikut seturut alir.

Padahal penyair kawakan seperti kelepan sendiri sebab betapa nama-nama baru pencinta cipta sastra puisi juga lainnya hampir tak menyisakan masa lengang, setiap detik ada saja puisi baru lahir, baik yang akan bertahan lama dalam perbincangan sesama penghobi komen di facebook, begitu pula bagi penulis yang bermaksud membuat Blog pribadinya guna mengarsipkan banyak karya yang lahir selama ini.

Ketika pendapat yang menganggap sastra yang beruang maya semakin gigih saja menunjukkan eksistensinya, banyak mata penyair kondang yang harusnya semakin terbuka lebar-lebar, asalkan sebagai syarat utama tak gagap media, gagap eksistensi. Padahal kesusastraan sejatinya adalah teriakan dari suatu sukma anak-anak jaman yang mengasuhnya dengan merdeka pula.

Kungkungan dunia cetak untuk mengukuhkan karya seseorang seharusnya makin menunjukkan iktikad demokratisnya, meskipun baometer eksisnya seorang penyair belumlah beranjak barang semili dari situ. Ketika nama besar sastrawan hendak ditabalkan, ternyata media serupa cetakan buku-buku antologi puisi masih sangat eksis dan patut pula diterima dengan lapang dada oleh para penyair muda yang boleh pula disebut sebagai calon pelaku sastra baru, mereka para facebooker yang bersastra harus lebih tangguh lagi, lebih mumpuni lagi, tak takut dikubur waktu dan aroma tema yang banya orbit bertebar.

Lebih jeli dalam menawarkan makna kebaruan, lalu kepentingan berkarir di ruang maya, agaknya layak dipertahankan, sebab di sini pelajaran datang dari mana saja bahkan sama sekali tanpa di duga, ada saja jempol yang menyemangati calon puisi yang dilahirkan jemari katanya.

Bandingkan pula gerakan lasak pelaku muda sastra kita dengan nama-nama yang tak banyak bahkan bisa dihafal diantara minimnya penyair kondang yang masih eksis. Kita ambil dua saja yang bandingannya cukuplah mumpuni, layak dan teruji, seorang Isbedy atau seorang Soni Farid Maulana. Betapa dua sahabat sastra kita ini cukup ideal untuk ditiru, diapresiasikan terus eksistensi mereka terhadap kesusastraan kita.

Keduanya yang memang kondang barangkali tak layak kita sebut tak nendang lagi, karena betapa kehadirannya amat menyemangati, terlepas intensitas putaran taq, komen maupun status keduanya dalam fase keintiman bersastra di laman FB. Sedangkan tulisan ini, sama sekali tak ditujukan untuk promosi nama-nama. Bukankah Isbedy dan Soni tak butuh dijilat-jilat, apalagi oleh bukan penjilat.

Padahal masih ada beberapa yang kondang lainnya yang terus saja anteng jalan, tak kelabakan meminang hubunga dengan penulis muda didikan mereka pula. Misalkan setiap bimbingan yang diberikan bisa saja untuk diri mereka sendiri. Semua penyair sudah tahu, bangsa sastra harus terus tumbuh, tak boleh terikut ujur.

Nah di sinilah sebenarnya tawaran tulisan kripik pedas manis ini ingin disampaikan, yakni kepada banyak sastrawan yang tak lagi dapat disebut muda, agar beri jalan dan luaskan harapanuntuk yang baru yang juga yang diharapkannya dapat tumbuh lebih eksis suatu saat. Ketika persaingan sastra tumbuh sehat dalam bimbingan bersama, maka sastra boleh layak disebut berjaya. Semoga.

Berikut kritis endemik yang ditawarkan tulisan ini bagi mereka yang kondang agar terus nendang:

*bukalah hati kalian agar tak jemu membimbing sebagai guru, bukankah dulu ini yang dimau, yang diimpi: ketika sastra punya harapan yang lebih besar dibanding jaman yang telah lewat.


*pahamkan bagi anak-anak muda pejuang baru kata kita, tentang bagaimana orisionalitas itu dapat terjaga dengan cara menjauhkan enigma penyelsupan paham, endusan gaya dan klepto ide yang tak boleh disuntik bius kedalam aorta penikmat baru sastra kita, sehingga mereka benar bisa memilih dalam merdeka, bukan dalam paksa-paksa dalam duga semata. Ketika lahir, setiap penyair ingin punya tabalan nama sendiri, tak suka infus-infsan apalagi ide yang diselusup itu cuma profan dan ambisi yang dulunya tak tercapai. Terimalah nafas baru secara lapang.

*Lebarkan sayap kubu jika memang masih layak demi penyelamatan, tetapi boleh pula seberang menyeberang itu, jangan diusir apalagi dicibir, padahal kegamangan adalah ujian. Biarkan para generasi sastra yang baru mereka mere'ka sastra sendiri.

Kalau ada manfaat syukurlah, kalau tidak berkenan lupakan dan tulis karya bandingan. Terima kasih.)


Senin, 16 Agustus 2010

Minggu, 15 Agustus 2010

Selamat Bergabung dalam Luasnya Sastra Muhrain

Sahabat Muhrain

Salam Sastra Indonesia buat kalian semua.

Laman Blog ini tak lain bertujuan untuk menghimpun segala karya yang selama ini Muhrain tulis di laman Facebook, agar lebih jelas kompilasi dan memudahkan pula mencari beberapa karya Muhrain yang sempat menyita banyak perhatian kawan-kawan selama berfacebooker ria. Sekaligus dengan munculnya Blog Sastra Muhrain ini, harapan amat besar bagi pertumbuhan kualitas bersastra Muhrain dan kawan-kawan untuk menuju mutu kesusastraan Indonesia yang makin baik di hari muka.

Terima kasih buat pencinta Blog ini.
Ambillah kemanfaatan sebaik-baiknya dari sastra kita.

Selamat menikmati dan berapresiasi.

Salam Muhrain untuk semua.